Sosialisasi Sadar Kusta Demi Tercapainya Target Bebas Kusta

 

Webinar Gaung Kusta Bersama Babinsa & PKK

Kusta, penyakit menular namun tidak mudah menular ini disebabkan oleh Infeksi Mycobacterium Leprae. Menular iya, tapi tidak semudah itu. Penularan terjadi ketika ada kontak erat yang sangat lama.

Saya pernah menjumpai seorang lansia yang terkena Kusta, dengan 10 jari yang sisa hanya separo. Kondisi kesehatannya tergantung dari daya tahan tubuhnya sendiri. Tapi di awal pandemi covid kondisi beliau memburuk, mudah sakit, dan ketika badan mulai sakit lama sekali penyembuhannya. Saya mengenalnya karena beliau langganan periksa di tempat kerja saya. Menurut info, beliau meninggal setahun yang lalu. Al – Fatihah...

Sejak mengenal beliau, saya jadi kepo dan berusaha mengedukasi diri sendiri dengan browsing tentang apa itu penyakit Kusta, yang biasa kita sebut Lepra.

Jujur, di Solo tempat saya tinggal sepertinya gaung tentang Kusta kurang bergema. Ntah mungkin saya yang kurang update kali ya... Soalnya yang saya dengar lagi gencar2nya program untuk atasi stunting.

Nah, hari Rabu tanggal 14 Juni 2023 kemarin saya mengikuti webinar yang bertajuk Gaung Kusta Bersama Babinsa & PKK. Webinar ini diselenggarakan oleh KBR dan NLR ( Netherland Leprosy Relief ) Indonesia. Acara yang dipandu oleh Rizal Wijaya dan dengan menghadirkan 2 narasumber yaitu Kapten Inf. Shokib Setiadi ( Pasiter Kodim 0712/Tegal ) dan Elly Novita, S. KM, MM selaku Wakil Ketua Pokja 4, TPPKK Kabupaten Tegal.

Awal bulan Juni pun telah diselenggarakan Roadshow Leprosy di Slawi, Tegal yang melibatkan Babinsa ( Bintara Pembina Desa ) dan PKK ( Pembinaan Kesejahteraan Keluarga ). Dengan adanya Roadshow yang diselenggarakan oleh NLR Indonesia ini menjadi langkah strategis dalam berkomunikasi terkait kusta secara masif.

Pemaparan dari narasumber webinar kemarin menegaskan bahwa Penyakit Kusta ini bukanlah penyakit kutukan, bukan penyakit dari dosa masa lalu, apalagi guna-guna. Hoax kesehatan yang sering beredar ini membuat penderita kusta enggan untuk berobat dan mengucilkan diri, sehingga penanganan jadi terlambat. Stigma dan perlakuan diskriminatif dari masyarakat tentu akan mempengaruhi psikologis para penderita kusta tersebut

Jadi dengan diadakannya Roadshow dan Webinar yang berlangsung kemarin bertujuan untuk meningkatkan akses publik terhadap informasi dan pengetahuan tentang kusta. Tentang bagaimana deteksi dini, pengobatan sampai pencegahan.

PERAN PKK DALAM MENANGANI KUSTA


Elly Novita, S. KM, MM
( Wakil Ketua Pokja 4, TPPKK Kab. Tegal )

“ PKK memberi dukungan terhadap masyarakan dengan sosialisasi dan edukasi Kusta. Dalam hal ini, PKK bergandengan tangan dengan Tokoh Agama dan Masyarakat yang ada, misal lewat pengajian atau kegiatan laen,” terang Elly Novita.

Lebih lanjut, Elly Novita menegaskan bahwa dalam penanganan kusta ini masih terkendala beberapa hal, yaitu masih saja ada anggapan yang keliru tentang penyakit kusta, banyak berita hoax yang harus ditepis, dan juga belum ada sistem evaluasi.

PERAN BABINSA DALAM MENANGANI KUSTA

Kapten Inf. Shokib Setiadi
( Pasiter Kodim 0712 / Tegal )

Kapten Inf. Shokib Setiadi selaku Pasiter Kodim 0712/ Tegal menjelaskan, peran yang dilakukan Babinsa di wilayah Tegal adalah dengan melakukan koordinasi dengan pihak Dinas terkait untuk menangani kusta. Dan Shokib mengapresiasi kegiatan Leprosy Roadshow yang diadakan di Slawi, Tegal. Dimana Roadshow tersebut dapat mengedukasi masyarakat sekitar tentang kusta.

Babinsa selalu hadir di tengah masyarakat dengan melakukan pendampingan yang bekerjasama dengan Dinas Kesehatan, Nakes, Kader Kesehatan di wilayah desa masing - masing untuk memberikan edukasi tentang kusta. Dan harapannya adalah penderita kusta bisa berkurang. Dan stigma tentang kusta ini bisa ditepis. Semua ini tentu dibutuhkan motivasi dan komitmen yang kuat dari penderita maupun masyarakat.

Penandatanganan Komitmen Bersama Untuk Indonesia Bebas Kusta

Yuk, dukung mereka dan hapus stigma demi Indonesia bebas kusta.

Salam sehat....😍

Share:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar